Memaknai Eksistensi Manusia Melalui Keterasingan dalam The Metamorphosis oleh Franz Kafka

By Ilham Andaru Prabowo, June 22, 2026

19 views

The Metamorphosis karya Franz Kafka memiliki jalan cerita yang cukup sederhana namun di dalamnya terkandung makna yang mendalam untuk dianalisis. Bermula dari tokoh utamanya yaitu Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah menjadi seekor serangga menjijikkan yang kemudian mengubah drastis hidupnya. Tentang bagaimana memandang eksistensi dirinya sendiri, pandangan dan perlakuan dari sekitar Gregor, hubungan antar manusia, hingga penderitaan dan harapan. Metamorphosis yang dialami Gregor menggambarkan suatu keterpaksaan dan jebakan dari absurditas hidupnya. Dia berharap dapat melupakan kejadian tak masuk akal yang menimpanya: “Bagaimana kalau aku kembali tidur sedikit lebih lama dan melupakan semua hal yang tidak masuk akal ini?”. Bahkan ia telah bersikeras hingga ratusan kali hanya untuk mencoba posisi tidur yang pas seperti ketika ia dulu masih seorang manusia, namun “kondisi tubuhnya tak memungkinkannya”. Deskripsi tersebut mengungkapkan tentang bentuk ketidak-keteraturan dalam hidup seseorang, yang dalam hal ini adalah perubahan Gregor yang begitu mendadak tanpa persiapan apapun menimpa dirinya serta bagaimana keterbatasan Gregor dalam upaya menghadapi absurditas atau ketidak-masuk-akalan hidupnya tersebut. Ia dengan kondisi yang tak diharapkan tersebut pun tak dapat melupakan dan kabur darinya. Bahkan setelah bersikeras mencoba pun ia masih tak mampu untuk melawannya, dan pada akhirnya dipaksa untuk menerima kenyataan pahitnya. Perubahan Gregor menjadi seekor serangga membuatnya menjalani hidup yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Maka dari itu, ia tak memiliki kendali atau koneksi atas apa yang terjadi padanya dengan apa yang sebenarnya ia inginkan. Metamorfosis Gregor menggambarkan sebuah transisi menuju keterasingan dari makna hidup dirinya sendiri. Selanjutnya saat Gregor merasakan perubahan suara yang ia buat: “Gregor kaget ketika mendengar suaranya sendiri menjawab, suara itu benar-benar sulit dikenali sebagai suaranya sebelumnya, seperti suara yang jauh dari dalam dirinya”, kemudian dilanjut dengan: “Rupanya, kata-katanya sudah tak bisa dimengerti sama sekali, meskipun di telinganya sendiri kata-kata itu terdengar cukup jelas”. Gregor tak dapat lagi mengenali “suara” dirinya, suara hati atau keinginannya yang sebenarnya. Tak dapat memahami keinginannya sendiri, tak dapat menjangkau apa yang tertanam dalam hatinya meskipun hal tersebut begitu jelas baginya. Terdengar jelas bukan berarti selalu dapat dimengerti atau dipahami. Oleh karena itu, ia terasing atau terpisah dari apa yang seharusnya ia kehendaki. “Suara” yang Gregor kenali sebelumnya (saat masih seorang manusia) adalah saat ketika ia masih memegang makna atau tujuan yang jelas, yang ia gunakan sebagai petunjuk hidupnya. Sementara semenjak metamorfosis, suara yang ia dengar kini menjadi tak ia kenali lagi yang menandakan hal kontradiktif dari apa yang ia ucap dengan apa yang sebenarnya ingin ia pahami, dengan kata lain adalah sebuah pergolakan batin. Lalu tentang interaksi Gregor dengan orang lain: “membuat lawan bicaranya tak yakin apakah ia mendengar dengan benar atau tidak”. Kemudian ketika ayah Gregor bereaksi terhadap wujud Gregor dan mengancamnya: “Seruan penuh permohonan Gregor tak ada gunanya, karena tak ada satu pun ucapannya yang bisa dimengerti”. Juga: “Dan karena tak ada yang mengerti ucapannya, tak seorang pun, bahkan adik perempuannya……”. Menandakan bahwa posisi Gregor di mata orang lain (bahkan keluarganya sendiri) kini sudah semakin sulit dijangkau, “suara”-nya tak lagi mereka dengar dan pahami, ia terasing dengan orang lain di sekitarnya melalui kegagalan komunikasi dan pemahaman kedua belah pihak yang sebenarnya Gregor harap untuk adanya seseorang yang dapat memahaminya. Selanjutnya mengenai pekerjaan Gregor sebagai pedagang keliling: “alangkah beratnya pekerjaan yang kupilih!” yang lalu diikuti dengan keluhan dan bebannya seperti: sebagian waktu pekerjaannya yang dihabiskan untuk perjalanan, makan tidak enak dan tidur tidak teratur, hingga selalu menjalin kontak dengan orang baru sampai ia tidak pernah bisa mengenal siapa pun dengan baik atau sekadar beramah-tamah dengan mereka. Dilanjutkan dengan apa yang malah ia dapatkan dari pekerjaannya: “begitu mudah menjadi bahan olok-olok, diperlakukan dengan buruk”. Dan kehadiran atasan perusahaan Gregor yang diperkenalkan dengan: “tak kenal kompromi, dan tak punya pengertian”. Lalu ketika Gregor menuangkan jawaban panjangnya kepada Kepala Kepegawaian sebelum ia pergi kabur: “terlalu mudah menghakimi pegawainya yang sedang bernasib buruk”. Ia juga menyatakan tentang keluarganya yang terpana dan bahagia ketika pertama kali menerima penghasilan dari pekerjaan Gregor, namun seiring waktu mereka akhirnya terbiasa dengan hal itu, Gregor tak lagi menerima tanggapan hangat. Gregor di sini adalah sosok tulang punggung keluarga, dan salah satu alasan ia bekerja adalah untuk melunasi utang keluarganya. Apa yang Gregor sampaikan terkait pekerjaannya tersebut menunjukkan keinginan Gregor dengan pekerjaan yang dijalaninya begitu bertolak belakang. Keadaan yang memaksanya menjalani pekerjaan yang bukan merupakan ekpresi dari kehendaknya lagi, kobaran api semangat Gregor yang kian redup dan akhirnya padam. Rutinitas yang menjemukan, tak lagi bermakna sekaligus merugikan. Lalu sikap keluarganya yang tak lagi hangat itu membuat ia tak lagi percaya diri akibat merasa kehilangan penghargaan atas dirinya sebagai seorang pekerja, dan tak pernah sungguh-sungguh menikmati hasil pekerjaannya. Hal ini menjadi penegas dari bentuk kritik sosial atas korporasi yang terlalu menekan pekerjanya. Dengan demikian, wujud serangga Gregor adalah manifestasi dari alienasi atau keterasingan dalam berbagai aspek kehidupannya yang seharusnya menyatu namun berakhir terpisah atau terpecah karena konflik-konflik yang mendasarinya. Apa yang terjadi pada kamar Gregor menunjukkan dampak nyata dan merugikan dari kegagalan dan terputusnya komunikasi antarmanusia. Terdapat perbedaan tentang bagaimana Ibu Gregor dan Grete (adik Gregor) menyikapi Gregor, berawal ketika Grete berniat untuk menyingikirkan perabot (termasuk barang kesukaan Gregor) yang menghalangi Gregor yang saat itu sering merayap kesana-kemari, agar kakaknya tersebut dapat bergerak lebih leluasa di kamarnya. Namun menurut Ibu Gregor justru sebaliknya, ia merasa jika pemandangan yang kosong itu hanya akan menyayat hati dan membuat Gregor kesepian sehingga Ibu Gregor lebih memilih untuk membiarkan kamar Gregor seperti apa adanya. Di sini, Ibu Gregor digambarkan sebagai sosok yang memiliki pemahaman lebih baik tentang Gregor dibanding adiknya itu. Tapi pada akhirnya, Ibu Gregor menuruti kemauan Grete yang sedari awal memang mengurus Gregor semenjak metamorfosisnya. Sedangkan yang sungguh Gregor inginkan adalah: “dan hanya suara ibunya, yang sudah lama tidak ia dengar, yang kembali membangkitkan ingatan itu di benaknya. Tak ada yang harus disingkirkan; semuanya harus tetap dibiarkan di tempatnya….” dan beranggapan bahwa perabotan itu dapat mencegahnya agar tak merangkak kesana-kemari tanpa tujuan dan alasan, yang mana itu bukanlah sebuah kerugian melainkan sebuah keuntungan besar menurutnya. Hal tersebut menunjukkan dampak ketika Gregor tak lagi dapat mengkomunikasikan atau mengutarakan secara langsung apa yang benar-benar ia inginkan kepada siapa pun yang ia harapkan, hal tersebut hanya akan menimbulkan masalah pada dirinya sendiri dan berpotensi juga pada orang lain. Karena berbeda orang, maka berbeda pula persepsi atau pemahaman mereka terhadap dirinya, dan hal ini nantinya akan mengarah pada keputusan bagaimana orang tersebut memperlakukan dirinya, meskipun itu benar atau tidak bagi dirinya. Beberapa tindakan Gregor menujukkan bahwa ia masih memiliki sisi kemanusiaannya meskipun telah berubah menjadi serangga. Yaitu tindakan Gregor saat ia bersikukuh mempertahankan lukisan (yang sebelumnya dideskripsikan sebagai lukisan dengan ilustrasi dari majalah dengan pigura warna emas) ketika ibu dan adiknya hendak mengosongi ruangannya. Dan jauh sebelumnya, ibu Gregor sempat memuji lukisan dengan pigura itu dengan: “betapa indahnya benda itu”. Serta ketika adiknya bermain biola untuk para penginap di apartemen keluarganya, Gregor mendekat ke sumber suara, “Apakah ia seekor binatang kalau musik bisa membuatnya begitu terpikat?”, “Ia merasa seakan-akan ditunjukkan jalan menuju makanan tak dikenal yang ia dambakan” dan terkait permainan biolanya: “karena tak seorang pun di sini menghargai musiknya sebesar Gregor menghargainya”. Adiknya digambarkan sebagai sosok yang dicintainya dan ingin ia lindungi selalu. Bahkan, “ia selalu berencana untuk mengirim adiknya ke sekolah musik”, begitulah niat Gregor. Kedua hal tersebut, yaitu lukisan dengan pigura emas dan permainan biola adiknya menguraikan hal yang masih Gregor pegang, perjuangkan, dan dicintainya. Lukisan dengan bingkai emas adalah bentuk ekspresi dari Gregor, bukan sekadar barang yang ia buat ketika waktu luangnya, tetapi barang yang memiliki tempat spesial baginya. Kemudian tentang permainan biola adiknya yang memikat Gregor adalah bentuk dari keinginannya untuk dapat kembali lagi menjadi bagian dari keluarganya, kembali menjadi sosok kakak yang penyayang bagi adiknya, yang selalu mengapresiasi dan mendukungnya. Kembali menjadi “Gregor” seutuhnya lagi bagi keluarganya. Menjadi manusia adalah memegang dengan keyakinan tentang apa yang dicintai agar terus merasa hidup, dengan dorongan kehendak untuk mempertahankan dan memperjuangkannya, serta untuk merasakan berbagai emosi dalam keterlibatan antara diri sendiri dan dunia di sekitarnya. Apa yang terjadi pada Gregor pasca metamorfosisnya melambangkan tentang rapuh dan rentannya hubungan antar manusia. Di sepanjang cerita setelah wujud serangga Gregor terungkap dan disaksikan oleh keluarganya sendiri dan Kepala Kepegawaian, mereka menujukkan sikap yang berbeda jauh sebagai reaksi alaminya atas wujud serangga Gregor. Kepala Kepegawaian yang kabur dan tak pernah ada lagi kabar dari perusahaan tempat ia bekerja. Mulai dari ketika nyawa Gregor yang terancam akibat hantaman apel oleh ayahnya, “meskipun tubuh Gregor sekarang begitu menyedihkan dan menjijikkan, Gregor tetaplah bagian dari keluarga, dan tak boleh diperlakukan layaknya musuh. Sebaliknya, sebagai keluarga, ada kewajiban untuk menerıma segala perubahan mendadak yang terjadi pada dirinya ỵang harus ditoleransi, sekadar ditoleransi”, hingga ketika keluarganya berada di ujung keputuasaan dan ingin menyingkirkannya: “Aku tak mau memanggil monster itu sebagai kakakku”, ujar adik Gregor. Membuktikan bahwa eksistensi atau keberadaan Gregor kini bagi mereka sudah tak lagi bermakna. Perusahaan tempat Gregor bekerja melupakannya begitu saja setelah tahu bahwa ia tak lagi bisa menghasilkan keuntungan bagi mereka. Lalu keluarganya yang berakhir putus asa, tak berdaya, dan menderita untuk bisa menerima Gregor sebagai bagian dari mereka. Begitu rapuh dan rentannya hubungan antar manusia ketika seseorang (Gregor) tak lagi mampu memberikan timbal balik yang bermakna bagi orang lain, yang berujung pada dilupakan dan ditinggalkan. Runtuh dan mengubur habis eksistensinya. Dan waktu tak akan mengubah dunianya yang menyedihkan. Akhir dari kisah Gregor adalah tentang kehilangan, sekaligus sebuah siklus yang melahirkan harapan. Setelah kematian Gregor si serangga ini, keluarganya memutuskan untuk pergi ke luar sementara menuju taman di pinggiran kota, hal yang telah lama tidak mereka lakukan. “Trem yang mereka tumpangi dibanjiri sinar hangat matahari”, lalu “seolah menjadi penegas mimpi baru dan niat baik mereka, begitu tiba di tempat tujuan, anak perempuan mereka menjadi yang pertama bangkit dan merengangkan tubuh belianya”. Adalah tentang makna dari kehilangan, yang bagaimana pun harus mereka lalui dan mulai beranjak dari segala rasa yang memberatkan menuju harapan yang ada di balik masa yang akan mereka jalani ke depannya. Pada akhirnya, dari metamorfosis Gregor menjadi seekor serangga yang menjijikkan membawa tentang eksistensi atau makna keberadaan seorang manusia baik bagi dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya, walaupun diselimuti dengan pergolakan batin dan penderitaan melalui alienasi atau keterasingan. Gregor telah gugur.