Novel filosofis “No Longer Human” karya Osamu Dazai menyelami tentang bagaimana karakter utama bernama Yozo yang di sepanjang ceritanya dipenuhi oleh penderitaan dan batin nan tersiksa akibat perannya sebagai “badut”. Melalui hal tersebut, kisah ini merupakan representasi mengenai makna eksistensi atau keberadaan diri sendiri yang terasa asing, bagaimana manusia lain dapat membentuk diri pribadi, serta hubungan antar manusia dan perasaan yang dibawa olehnya. Semua itu dapat dilihat melalui topeng badut yang Yozo kenakan maupun apa yang tersembunyi di baliknya.
> Siksaan dan penderitaan yang Yozo rasakan didasari oleh perasaan dan keinginan terdalam yang terus ia sembunyikan dan pendam. Alih-alih jujur mengungkapkannya, ia malah bersembunyi di balik topeng bernama badut.
Di sepanjang cerita, banyak ditemukan bahwa Yozo menggambarkan siksaan akibat dari perbuatannya itu sebagai “neraka”. Dan deskripsi tentang bagaimana Yozo memandang takut akan amarah orang lain sebagai “binatang buas yang menampakkan kesejatiannya”.
Lalu diperjelas lagi dengan pernyataannya:
“Aku hanya sadar dengan ketakutanku dan rasa maluku sendiri yang tak terkatakan.”
“Aku selalu bergidik ketakutan di hadapan manusia. Tak mampu sedikit pun merasakan percaya diri dalam kemampuanku untuk bicara dan bertindak seperti manusia, aku menyimpan siksaan mental ini rapat di dalam dada.”
Ada saat ketika Yozo kecil ditanya oleh ayahnya, apa hadiah yang ia inginkan. Yozo tak ingin menjawab, akhirnya kakaknya yang memutuskan. Kemudian ia melihat raut wajah ayahnya yang berubah, lalu malamnya ia sesak akan rasa takut dan cemas hingga membuatnya menggigil.
Bukti-bukti di atas cukup menjelaskan kepribadian Yozo. Di dalam diri Yozo, melekat perasaan takut dan malu yang menghalanginya untuk bersikap jujur kepada orang lain, alhasil ia menjadi seorang yang penuh dengan kepalsuan, tipu daya, dan ketidaktulusan yang pada akhirnya tak hanya menipu orang lain namun dirinya sendiri dan membuatnya menderita. Pemikiran ganjil yang telah terpatri dalam dirinya lah yang kelak akan menghancurkan dirinya sendiri.
“Kalau aku membenci sesuatu, aku tak bisa bilang ‘aku tak suka’.” Disusul dengan pernyataan: “Entah aku suka atau tidak, aku tercabik oleh ketakukan untuk memilih. Dengan kata lain, aku tak punya kekuatan untuk memilih.”
Sudah selayaknya bagi seorang manusia untuk dapat menentukan arah hidupnya melalui kemampuannya untuk memilih atau juga dapat disebut sebagai kebebasan, namun pernyataan Yozo tersebut menegaskan bahwa tak semua orang memilikinya, yaitu sebuah kekuatan untuk memilih. Yozo sendiri memutuskan untuk menghindari kebebasannya dan keadaan yang harus ia pertanggungjawabkan akibat keputusan mana kala ia jujur dengan perasaannya dengan menipu dirinya sendiri dan berperan di balik topeng badut. Sebuah peran yang terbentuk dari respon atas kecemasannya. Keinginannya yang sebenarnya ia biarkan mengendap dan tak terungkapkan, kemudian ia harus menelan pahitnya kebohongannya demi menyesuaikan dengan apa yang orang lain kehendaki, demi memenuhi apa yang ia anggap ekspektasi dari orang lain.
> Peran Yozo yang tak pernah jujur dengan perasaannya ini merupakan buah hasil dari cerminan manusia lain di sekitarnya.
“Aku yakin bahwa kehidupan manusia berisi banyak contoh ketidakjujuran yang tulus, menggembirakan, dan menenangkan, jenis ketidakjujuran yang sungguh sangat bagus milik orang-orang yang saling menyakiti tanpa (anehnya) saling melukai, atau mereka yang seolah bahkan tak sadar bahwa mereka saling merendahkan.”
“Aku mendapati sulitnya memahami jenis manusia yang hidup, atau yakin ia bisa hidup dengan murni, bahagia, dan tenang sambil melakukan dusta. Manusia tak pernah mengajari aku rahasia yang sukar ditembus itu. Andai saja aku tahu satu hal yang tak perlu kutakuti dalam diri manusia, atau tidak kutolak, atau yang tidak membuatku merasakan siksaan neraka setiap malam.”
Kemudian ia menambahkan:
“Namun karena manusia di sekitarku secara gigih menghalangiku dari urusan percaya atau tak percaya. Bahkan kadang orangtuaku menunjukkan sikap yang bagiku sukar dimengerti.”
Menunjukkan bagaimana Yozo memandang dan memaknai eksistensi manusia lain di sekitarnya. Peran Yozo sebagai seorang badut dengan wajah munafik ini ia adopsi dari bagaimana identitas sosial di masyarakat sekitarnya terbentuk. Yozo mulai kehilangan kepercayaan atas manusia di sekitarnya yang kerap ia temui sebagai hipokrit atau bermuka dua, penuh kepalsuan, dan juga munafik. Maka dari itu, ia menepis kebabasannya dan berlakon sebagai badut dan berkata “Ya” meskipun dalam hatinya ia berkata “Tidak”, begitu juga sebaliknya. Hidupnya penuh dengan ketidaktulusan. Yozo terus merasakan siksaan batin yang ia sebut dengan “neraka” ini sebagai pertanda bahwa hati nuraninya atau perasaan hati murni dan sedalam-dalamnya yang bergejolak tiap kali ia melakonkan peran badut tersebut.
> Kendati jiwa yang menderita dan kesepian, masihlah hadir seorang sebagai tempat untuk menyandarkan hati tanpa harus merasa takut dan resah. Yang akan dilepasnya topeng penuh kepalsuan di hadapannya.
Ada teman masa kecil Yozo bernama Takeichi, yang menggerakkan hatinya untuk mulai melukis dan dalam pemikirannya ia menganggap pelukis sebagai: “mereka tidak mengelabui manusia dengan tingkah badut; mereka berbuat yang terbaik dalam menggambarkan monster ini tepat sebagaimana yang tampak”. Keadaan tersebut membangkitkan visi bahwa dengan melukis ia dapat meluapkan ketakutannya pada manusia yang ia sebut sebagai bayangan hantu, iblis, atau monster.
“Aku diam-diam mengagumi diri ini, yakin bahwa tak ada jalan keluar darinya, tapi tentu aku tidak menunjukkan lukisanku pada siapa pun kecuali Takeichi.”
Lalu dengan seorang wanita pelayan kafe daerah Ginza bernama Tsuneko yang Yozo temui saat dirinya kian diliputi perasaan putus asa: “Betapa aneh ia menenangkan teganganku cukup dengan sedikit kata. Tidak, ini bukan karena aku terbebas dari keharusan mengkhawatirkan uang. Justru seolah lebih karena berada di sampingnyalah aku tak perlu khawatir.”
“Ia tidak membuatku tertekan, dan aku tak merasa harus menunjukkan tingkah badut untuknya.”
Hal tersebut memperlihatkan bahwa dalam diri seorang Yozo yang kalut dengan perasaan takut dan cemas akan manusia itu masih terdapat sosok yang dapat menjadi tempat baginya untuk bertumpu, tempat di mana ia bisa membuka dirinya yang sebenarnya. Adalah seorang yang bersedia memeluk kesendirian Yozo. Alasan mengapa mereka hadir untuk Yozo adalah karena mereka memahami apa yang membuatnya menderita dan setidaknya menenangkan dirinya. Meraka dapat berupa teman, orang yang bernasib sama, ataupun orang yang dicintai. Mereka adalah manifestasi dari pembebasan diri bagi jiwa yang dipenuhi ketakutan dan keresahan, naungan di mana ia dapat membuka dirinya yang sebenarnya tanpa rasa khawatir, aliran ketenangan bagi jiwa yang terbakar oleh gejolak siksaan batin. Kepada siapa ia menyandarkan hatinya.
Pada akhirnya riwayat hidup Yozo mengisahkan tentang manusia yang terasing dari makna bagi dirinya sendiri, melalui tindakannya yang kerap kali menyiksa diri dengan cara mengesampingkan perasaan serta kemauan terdalamnya demi menjadi sosok yang tak pernah jujur dan tulus untuk dirinya maupun orang lain. Di sisi lain juga menyorot tentang bagaimana kesadaran kolektif dalam masyarakat (lingkungan sekitar Yozo yang ia kenali) yang dapat membentuk kesadaran individu karena bagaimanapun juga masyarakat adalah sekumpulan dari eksistensi keberadaan individual.
Yozo, eksistensi seorang manusia yang terkekang, seorang manusia tanpa arah tujuan yang hancur oleh keputusan destruktif atas konsekuensi tindakannya semasa dilanda keputusasaan. Dengan demikian, ia tertolak sebagai seorang manusia.
Sampai titik ini, terbitlah renungan tentang bagaimana jati diri yang autentik dapat dibentuk demi memaknai eksistensi kita sebagai manusia yang benar-benar hidup.
“Ia tetap anak yang baik, seorang malaikat”. Yozo, was a human.
https://iammburg.medium.com/osamu-dazai-akankah-kau-akan-tetap-mencintaiku-saat-aku-tak-lagi-manusia-bbaff0f39575